F4BFAC987F00CA5AD1C3B8284BCBE7F2 Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Libya Mantan Kepercayaan Qadafi - Hans Dayli

Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Libya Mantan Kepercayaan Qadafi

Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Libya Mantan Kepercayaan Qadafi


Merdeka.com - Kamis 4 April pekan lalu. Pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) menyerbu Ibu Kota Tripoli yang dikuasai pemerintah dan diakui PBB untuk menyingkirkan apa yang mereka sebut 'gerombolan bersenjata' dan terorisme.
Dalang di balik penyerangan itu adalah Khalifa Haftar, sosok jenderal militer berusia 75 tahun.
Beberapa bulan sebelumnya LNA juga menggempur sejumlah wilayah lain di Libya. Haftar tampaknya ingin menguasai keseluruhan Libya secara militer.
Perdana Menteri Fayez al-Serraj yang pemerintahannya didukung PBB berjanji akan mempertahankan Tripoli dan dia menuding Haftar sedang melakukan aksi kudeta. Haftar cukup populer di Kota Benghazi karena perannya menyingkirkan kaum Islamis.
Serangan ke Tripoli ini terjadi di tengah rencana PBB untuk menggelar perundingan untuk memfasilitasi tertundanya pemilu yang harusnya berlangsung tahun lalu.
Haftar dilahirkan pada 1943 di Kota Ajdabiya sebelah timur Libya. Dia adalah anggota dari kelompok militer pimpinan Kolonel Muammar Qadafi yang mengambil alih kekuasaan dari Raja Idris pada 1969.
Qadafi kemudian memberikan wewenang kepada Haftar untuk memimpin pasukan Libya dalam konflik di Chad pada 1980-an. Tapi rupanya Libya kalah oleh pasukan Chad yang didukung Prancis. Haftar dan 300 pasukannya tertangkap pada 1987.
Qadafi menyangkal militer Libya terlibat dalam konflik di Chad dan dia tidak mengakui Haftar. Hal inilah yang membuat dia dua dekade kemudian menggulingkan Qadafi.
Dikutip dari laman BBC, Haftar melakukan operasi penggulingan Qadafi dari pengasingan di Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat. Kedekatannya dengan markas CIA di Langley membuat dia menjalin hubungan dengan intelijen AS yang mendukung penggulingan Qadafi.
Tak lama setelah pemberontakan meletus untuk menjatuhkan Qadafi pada 2011, Haftar kembali ke Libya dan dia menjadi pemimpin pasukan pemberontak di timur.
Setelah Qadafi terbunuh, Haftar kemudian muncul di televisi pada Februari 2014 dan mengumumkan rencananya untuk menyelamatkan negara dan menyerukan agar rakyat Libya menentang parlemen terpilih (GNC).
Pengumuman ini terjadi ketika kota kedua terbesar di Libya, Benghazi, dan beberapa kota lain di timur dikuasai oleh kelompok militan cabang Al Qaidah, Ansar al-Syariah dan kelompok Islamis lainnya yang menargetkan serangan terhadap polisi dan militer serta pegawai negeri.
Pada Mei 2014 Haftar melancarkan Operasi Kedaulatan melawan kelompok militan di Benghazi. Maret 2015 parlemen terpilih Libya yang sudah menggantikan GNC menunjuk Haftar sebagai panglima LNA.
Setelah setahun tak ada kemajuan, pada Februari 2016 LNA mampu memukul mundur kelompok militan dari Benghazi. Dua bulan kemudian operasi militer membuat militan terusir dari daerah kekuasaan mereka di luar Benghazi sampai ke Derna, sekitar 250 kilometer sebelah timur Benghazi.
Selain Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Prancis diketahui mendukung Haftar sedangkan Italia mendukung pemerintahan yang disokong PBB. Kedua negara di Eropa ini memandang Libya sebagai rekan penting untuk menghentikan gelombang imigran dari sub-Sahara Afrika ke Eropa. [pan]
sumber :

Belum ada Komentar untuk "Khalifa Haftar, Jenderal Pemberontak Libya Mantan Kepercayaan Qadafi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel