Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Raisa, Ngopi Yuk!

Raisa, Ngopi Yuk!

Cerpen Karangan: Julie Djaelani
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 11 August 2020

Hari ini hari jumat, artinya aku akan pulang lebih awal satu jam dari hari hari biasanya.

Seperti biasa sepulang mengajar aku selalu menyempatkan diri menikmati segelas kopi entah itu hangat atau dingin di kedai kopi paman Simpson persis sebelum lampu merah Bougenville.

Dan aku Raisa, perempuan berdarah minang yang berhasil mengajar di OUR CARES KINDERGARTEN SCHOOL-New York dari sekian banyaknya pendaftar dari Indonesia. Aku berusia 27 tahun, single, sangat menyukai anak anak dan tentu saja pencinta minuman kopi!

Aku memarkirkan sedan tua yang diberikan oleh ayahku sebagai hadiah lulus keguruan dengan nilai bagus di New York University itu di depan kedai, aku pun memesan ice coffe karena cuaca agak panas.

“Haaahh” aku menghelakan nafas, meski sudah berulang kali kemari aku tidak merasa keberatan karena harus merogoh kantung agak dalam.
Kubuka laptop sambil menikmati wifi gratis yang disediakan di Brown Coffee. Aku mulai membalas email teman teman di Indonesia dan tiba tiba aku terpaku saat membaca email yang satu ini.


“Baiklah jadi kapan kau menikah, perkenalkan bulemu ke Indonesia yaa”. Ejek salah satu temanku, Ajeng yang berketurunan darah birunya keraton Jogja. “Heii Raisa aku hanya becanda, santai saja!”. Tulisnya lagi karena aku belum sempat membalas. Situasi itupun larut dan aku berbalas email lagi sambil tertawa tawa.

Karena sedang keasikan menikmati suasana seperti ada di ‘rumah sendiri’ aku tidak sadar kalau ada pria bule tampan kira kira berusia 30 tahun, berbadan tegap yang duduk dua meja di seberangku yang juga sedang asik memandangiku. Dengan cepat aku merapihkan penampilanku, adakah aurat yang terlihat? Tapi justru ia tertawa bgitu melihatku salah tingkah dan anak perempuan yang di sampingnya melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum. Anak yang manis.. Oh tidak, ada anak kecil dan berarti itu anaknya dan tentu saja pasti anak itu memiliki ibu. Aku yang semakin gugup segera melipat laptop, merapikan mejaku dan berlalu.

Keesokan harinya karena memang tidak pernah absen dari Brown Coffee, aku masih saja menyempatkan diri untuk menyeruput kopi panas meski hari sudah sore. Aku mulai memarkirkan sedanku dan, ya ampun! Pria itu lagi, ia keluar pintu dan tersenyum padaku. Sebagai orang Indonesia yang ramah aku pun membalas senyumannya tapi siapa dia?!! Aku mulai tertantang! Kucoba bertanya pada paman Simpson. “Pria itu pelanggan baru disini, yaa sekitar seminggu. Ia juga terlihat seperti pria dewasa biasa, terlihat baik dan tidak banyak bicara!”. Jawab paman Simpson. “Oya, anak kecil yang bersamanya bernama Grace, ia yang memperkenalkan dirinya sendiri saat memesan 2 mug coffee late hangat untuknya dan untuk… Bryan! Ya, pria itu bernama Bryan! Kata Grace mereka berdua baru pindah ke Allan Street 3 bulan yang lalu”. Lanjut paman Simpson.

Aku kembali pada kursiku sambil menebak nebak si Bryan yang dikatakan paman Simpson tadi. Belum selesai lamunan ini temukan jawabannya, Grace masuk ke dalam kedai membawakanku selembar kertas. Aku mengernyitkan dahi dan mengangkat pundak. “Ini untuk apa sayang?”. Tanyaku. Grace menunjuk ke arah luar lewat jendela kedai, disana ada Bryan yang sedang menunggu sambil berharap. Aku mengangguk “baiklah, terimakasih” dan Grace kembali pada Bryan.

Begini tulisan pada kertas itu, “apa kau mau berteman denganku?? Ku kira kau orang yang sabar, yang bisa berteman dengan orang sepertiku ini! Jika mau temui aku besok pukul 11, kita akan menikmati minum kopi bersama. Thankfull, Bryan!”.

Esoknya jam sudah menunjukan pukul 11 dan aku sampai tepat waktu. Kudorong pintu utama kedai, kulangkahkan kakiku masuk ke dalamnya. Mata ini tiba tiba menemukan dua pasang bola mata berwarna hijau kebiruan, ada sosok pria gagah dan seorang anak kecil sedang menungguku di ujung meja, aku menghampiri mereka dan ikut duduk bersamanya.

Bryan berbisik pada Grace, kemudian dengan malu malu Grace menyampaikannya lagi padaku “tante cantik, siapa namanya?”. “Aku Raisa!” aku menatap Bryan sembari menyodorkan tangan, Bryan menyambut tanganku tapi Bryan terlihat bingung dan berbisik agak lama pada Grace, aku melihat sesuatu yang aneh disini.

Ternyata setelah Grace bercerita aku mengerti mengapa selalu hanya ada senyuman sejak awal. mengapa selalu ada Grace bersamanya mengapa berbisik dan mengapa ada secarik kertas bersama penanya?! Bryan mengalami tuna wicara!! Grace mengerti meski bisikannya selalu tidaklah jelas, itulah mengapa Grace selalu bersama Bryan.

Aku yang memang tidak percaya berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Bryan dan mencoba berteman, kukepal tangan Bryan “it’s ok! I’ll be your friend!”. Aku tersenyum lebar.. Kali ini ia pun terlihat lebih percaya diri. Ia mengambil secarik kertas bersama dengan penanya dan mulai menulis, setelah selesai kertas itu disodorkannya padaku “so, moccachino or moccalatte?”.

Posting Komentar untuk "Cerpen Raisa, Ngopi Yuk!"